Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Berbagi

Dua hari lalu, saya dan anak tengah saya, pergi keluar untuk belanja keperluan. Awalnya sudah diprediksi, kalau jam 11-an keperluan tersebut bisa selesai, dan bisa sempat untuk shalat jum'atan di masjid dekat rumah. Tapi karena suatu hal, gojek yang kami pesan tak kunjung datang. Akhirnya saya berkeputusan untuk melakukan shalat jumat di masjid terdekat dari tempat pusat perbelanjaan tersebut. Kami harus bergerak cepat, karena di masjid tersebut jamaahnya suka membludak. Ketika melewati pintu halaman masjid, kami dicegat ibu tua yang minta-minta. Dan dengan melambaikan tangan, saya memberi isyarat tanda tak memberi. Dan dalam pikiran saya kala itu, antrian tempat wudhu yang berjejer panjang. Telat sedikit saja, sudah dipastikan khatib sudah berdiri. Sesampainya di dalam masjid, sesuatu yang dicari sang anak adalah sebuah kotak infak yang berjejer tiap shaf. Selembar uang lima ribuan dimasukkannya ke dalam kotak infak.  Dan ciumanpun mendarat di keningnya sebagai tanda syukur...

Memperkenalkan BBM Pada Anak

Pada kesempatan lalu, sempat disinggung Financial Planning For Kids . Dan pada dasarnya, Financial Plan ini sebuah cara dalam membelanjakan uang, agar sesuai dengan tujuan keuangan. Awalnya mempraktekkan perencanaan keuangan, terasa sulit dan jelimet. Padahal semua itu karena posisi kita masih merasa nyaman di zona ketidak aturan. Membelanjakan uang seenaknya saja, mencampur adukkan mana uang pribadi dan usaha, mengeluarkan uang tak sesuai dengan need atau want. Dan sebetulnya gampang kalau mengetahui teknik pengelolaannya. Ada tahap terpenting dalam melakukan Financial Plan ini, dari mulai Planning, terus maping, selanjutnya budgeting dan tak lupa membuat Goal (tujuan) dari keuangan itu sendiri. Membahas hal begini ke anak tentu tak seperti mengajarkan ke orang dewasa. Jangankan anak kecil, orangtua saja banyak yang kelenger dengar hal ginian. Untuk melatih anak agar bisa langsung praktek, kita bisa sederhanakan istilah yang biasa digunakan para Financial Planer. Kalau biasa ...

Financial Plan For Kids

          Keterbatasan saya dalam mengelola keuangan, akhirnya terpecahkan setelah ikut work shop tentang Financial Plan yang diadakan MQ FM Bandung, di penghujung tahun 2011. Serasa mendapatkan dunia baru pasca mendapatkan ilmu Financial dari coach Agus Rijal dari masyarakat Insafi (Indonesia Sadar Financial Islami).          Apalagi yang dibahas disini, tentang perencanaan keuangan yang sesuai islam. Oalah... ada gitu Financial Plan Islamic ? Bukannya Financial Plan banyak dipraktekkan di negeri barat? Dan selidik punya selidik, ternyata perencanaan keuangan islami ini sudah berlangsung lama loh. Sejalan dengan datangnya islam itu sendiri.            Silahkan dicek Qs. Al-Isra ayat 26-27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros it...

MEMBINA CHEMISTRY DENGAN ANAK

             Jujur saja, mengenal istilah chemistry ini belum lama banget. Kira-kira 2 atau 3 tahunan lalu, saya melihat tayangan di televisi tentang keluarga Ridwan kamil walikota Bandung saat ini. Di acara tersebut, beliau   mengungkapkan tentang aktivitas  rutin tiap pagi selama 20 menit,  yaitu  berpelukan dengan anak-anaknya. Walaupun anak-anaknya sudah besar, bahkan yang sulung sudah SMA.  Dan setelah ditanya host acara tersebut, kang Emil melakukan kebiasaan tersebut untuk memperat chemistry diantara mereka sebagai orangtua dan anak.                 Lambat laun saya menangkap kalau yang diistilahkan dari kata asing tersebut, semacam ikatan bathin antara orangtua dan anak-anaknya.  Tapi untuk memenuhi rasa kepenasaran saya tanya mbah google  tentang arti dari chemistry tersebut.  Jawabannya sangat mencengangkan karena semul...

KAPAN BOLEH MARAH?

from:Google Anak -anak yang kita bina, tak selamanya  sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada kalanya orangtua harus melewati fase yang berada pada titik kejengkelan. Pada keadaan seperti  inilah, sebagai orangtua terkadang merasa terpancing untuk meluapkan emosi. Bahkan sangat banyak para ayah yang selalu menggunakan fisik dalam melampiaskan amarahnya. Lantas, apakah boleh kita marah terhadap anak ? Kalau saya pribadi, bukan hanya boleh tapi kalau saatnya perlu marah, kenapa tidak. Hanya perlu dicermati, marah seperti apa yang harus dilakukan? Ada marah pada tempatnya, ada pula marah yang tidak pada tempatnya. Marah yang dibolehkan, lebih kepada menjaga kedisiplinan anak, dan yang paling penting anak mengetahui kalau kita sedang marah. Ketika ada nilai-nilai atau aturan-aturan yang disepakati lalu anak melanggarnya, saya rasa marah harus dilakukan dengan catatan untuk mengingatkan kalau yang dilakukan mereka itu salah. Walaupun marah seperti ini diperkena...

Memperkenalkan Aurat Pada Anak-anak

                 Mengetahui batasan dalam melakukan tata kehidupan yang islami, sudah menjadi kewajiban bagi semua muslim. Sementara bagi anak-anak, hukumnya tidak wajib, namun mengenalkan semua pemahaman tentang bagaimana menjadi muslim yang kafah kepada mereka, agama menganjurkan harus sedini mungkin, termasuk memberikan pemahaman tentang Aurat. Hal ini akan berdampak pada fase pendidikan anak selanjutnya. Aurat memiliki arti sebagai bagian tubuh yang harus ditutupi atau dilindungi dari pandangan orang lain.  Menampakkan aurat bagi umat islam, dianggap melanggar syariat dan dihukumi dosa. Sehingga memelihara aurat sama dengan memelihara syariat itu sendiri. Bagi anak-anak terutama balita, tentunya memperkenalkan tentang aurat, tak segampang menjelaskan kepada orang dewasa. Disinilah orangtua harus pintar dalam menterjemahkan ke dalam bahasa anak. Bisa menggunakan metode menyanyi, metode visual agar tertangkap dengan otak kan...

ANAK ADALAH BIJI PADI, DAN ORANGTUA ADALAH LADANGNYA

                                  Menjadi orangtua ternyata  tidaklah mudah. Merawat dan mengedukasi anak setiap saat, tak segampang  seperti yang tergambar dalam rencana awal. Apalagi di tengah-tengah kesibukan dalam rangka menghidupi keluarga, yang berakibat quantity dengan  anak-anak  jadi  berkurang. Hal ini sering kita temui di tengah-tengah  kita. Seorang ayah yang  sebenarnya adalah kepala  keluarga, tapi dengan dalih sibuk, akhirnya banyak menyerahkan urusan pendidikan terhadap ibu. Bahkan karena ibunya kerja, akhirnya sang anak diasuh oleh neneknya, menyewa baby sitter, atau memasrahkan pada pembantu di rumah. Padahal anak  merupakan sebuah kepercayaan yang teramat tinggi dari Allah untuk dirawat, dijaga, dididik, dibesarkan, dinafkahi dan dikenalkan pada Allah dan Rasul-Nya sehingga tahu akan tugasnya.       ...